Senin, 09 Januari 2012

MARHALAH DAKWAH ISLAM

Marhalah dakwah terdiri dari tabligh, ta’lim, takwin, dan tanfidz. Pada setiap tahapan ini terdapat amalud dakwah (aktivitas dakwah) dan ahdafud dakwah (tujuan dakwah). Pada marhalah tabligh (penyampaian umum) dan ta’lim (pengajaran) aktivitas dakwahnya adalah merubah dari kebodohan kepada ma’rifah (pengenalan) manakala tujuannya adalah menyampaikan ilmu dan memperbaiki ilmu.
Marhalah takwin mempunyai aktivitas merubah ma’rifah kepada fikrah dan merubah fikrah kepada harakah sedangkan tujuan adalah memperbaiki fikrah dan melatih amal.
Pada marhalah tandzim, aktivitas dakwahnya adalah merubah harakah kepada hasil sedangkan tujuannya adalah menyatukan shaf, mengkoordinasikan amal dan pengawasan kegiatan.
Pada marhalah tanfidz aktivitas dakwah adalah merubah hasil kepada tujuan (mardhatillah) menakala tujuannya adalah mobilisasi amal. baca

1. Marhalah tabligh dan ta’lim

a.    Amal dakwah pada marhalah tabligh dan ta’lim adalah merubah jahalah kepada ma’rifah. Marhalah ini adalah marhalah yang terbuka dengan penyampaian terbuka dan bahan yang sifatnya umum. Mereka yang hadir dalam marhalah ini adalah mereka yang berada pada level umum. Contoh tabligh adalah aktivitas dakwah di masjid (ceramah, khutbah, tazkirah), di kampus (seminar, kuliah, daurah) sedangkan ta’lim marhalah setelah tabligh. Mereka yang berminat dengan dakwah dan Islam diajak kepada marhalah ta’lim. Bentuk usrah umum dapat dikatakan marhalah ta’lim dimana kita mendapatkan ilmu melalui pengajaran yang dijadwal dan terlaksana secara tertib. Usaha-usaha dakwah tabligh dan ta’lim ini dengan sifat yang umum, peserta umum, dan tujuan umum, maka aktivitas ini bersifat merubah ketidaktahuan kepada pengetahuan (ma’rifah). Di dalam menjalankan amal dakwah demikian banyak aktivitas yang dilakukan seperti media, brosur, kaset, video, games, training, rihlah, dan sebagainya.
b.    Seiring dengan amal dakwah yang dilakukan di marhalah ini maka tujuan dan dakwahnya adalah memberi ilmu dan memperbaiki ilmu. Bagi peserta yang tidak mempunyai ilmu maka dengan keikutsertaannya di dalam marhalah tabligh dan ta’lim ini akan menambah ilmu sedangkan bagi yang sudah berilmu akan mendapatkan perbaikan ilmunya atau menambah ilmu. Pembedahan, perbincangan, dan pembahasan adalah bagian dari aktivitas marhalah ini sehingga mencapai kebutuhan akal atau kognitif individu seperti ilmu.

2. Marhalah Takwin

a.    Pribadi yang sudah menyadari pentingnya ilmu dan peranannya pengajaran yang terus menerus dan tertib serta telah bersedianya untuk mendapatkan ilmu dan amal bagi peningkatan potensi diri maka mereka ditingkatkan kepada marhalah takwin.
b.    Marhalah takwin ini mempunyai amal dakwah seperti merubah ma’rifah kepada fikrah dan merubah fikrah kepada harakah. Aktivitas ini dimulai dengan merubah ma’rifah yang telah dicapai pada marhalah sebelumnya kepada fikrah. Ma’rifah hanya mengenal saja tetapi belum mempunyai kesadaran dan pemahaman yang baik. Kesadaran dan pemahaman yang dapat membentuk amalnya adalah fikrah. Banyak muslim yang mempunyai ilmu tetapi tidak ada fikrah sehingga amal dan usahanya tidak jelasdan tidak teratur, begitupun dengan sikap dan tingkah lakunya terkadang menyimpang, ia pun mudah terpengaruh oleh ghazwul fikri sehingga muncul beberapa pribadi yang tidak komitmen dan tidak konsisten. Usaha merubah ma’rifah kepada fikrah dilakukan dengan membedah realitas yang berlaku dan merujuk kepada nilai Islam dari Al Qur’an dan As Sunnah. Perbincangan dilakukan sehingga muncul kesadaran dan pemahaman.
c.    Aktivitas berikutnya adalah merubah fikrah kepada harakah. Fikrah tidak cukup dimiliki seseorang apabila tidak diamalkan dan diwujudkan dalam harakah. Fikrah harus dibuktikan di dalam amalnya. Merubah fikrah kepada harakah adalah melatih peserta ke dalam amal dan gerakan, selain diberi peluang kepada peserta untuk beramal juga diberi latihan-latihan yang dapat merasakan realitas dan keadaan fikrah yang sebenarnya. Misalnya kita hanya memahami bahwa dakwah itu wajib dan bagi yang berdakwah itu dibantu oleh Allah, hanya dengan dakwah yang dapat menegakkan Islam. Fikrah demikian perlu dirasakan dengan amal di dalam harakah. Latihan yang diberikan dan juga peluang yang diberikan dan juga peluang yang disediakan akan membawa peserta kepada harakah.
d.   Pada marhalah ini memiliki tujuan dakwah, yaitu memperbaiki fikrah dan memperbaiki amal. Pribadi pada marhalah sebelumnya yang mendapatkan ilmu atau pribadi yang mengikuti marhalah takwin ini akan diusahakan agar mereka dapat memperbaiki fikrah dan amalnya. Perbaikan dilakukan dilakukan didalam marhalah ini dengan kaidah-kaidah yang telah dicontohkan Nabi seperti pelaksanaan tarbiyah para sahabat di rumah Arqom bin Abi Arqom.

3. Marhalah Tandzim

a.    Setelah proses marhalah takwin maka proses berikutnya adalah marhalah tandzim. Marhalah tandzim mempunyai amal dakwah lain yaitu merubah harakah kepada hasil. Tandzim dapat juga diartikan kepada jama’ah. Mereka yang sudah memiliki ciri-ciri islamiyah dan ciri pribadi da’iyah perlu disatukan kedalam tandzim (jama’ah). Dengan usaha ini maka akan mendapatkan hasil. Kerja secara infiradhi tidak akan membuahkan hasil yang berkesan. Usaha sendiri hanya terbatas kepada suatu hasil tertentu yang sesuai dengan kemampuannya, tetapi dakwah secara berjama’ah melalui tandzim ini akan menghasilkan banyak hasil. Usaha ini dilakukan dengan amal jama’i sehingga apapun tujuan dapat dicapai dengan izin Allah. Tujuan yang besar seperti menegakkan Islam tidak akan dicapai apabila tidak dilakukan secara berjama’ah.
b.    Tujuan dakwah pada marhalah tandzim ini adalah menyatukan shaf, mengkoordinasikan kerja dan melakukan pengawasan aktivitas dakwah. Peranan tandzim adalah menyatukan segala potensi yang dimiliki kemudian diarahkan kepada amal secara berjamaah dan dilaksanakan pengawasan amal tadi. Dengan demikian aktivitas dakwah akan berjalan dengan lancar menuju hasil yang berkesan kepada pribadi, keluarga, dan masyarakat.
4. Marhalah tanfidz

a.    Amal yang dilakukan pada marhalah ini adalah merubah hasil yang dicapai didalam marhalah tandzim kepada tujuan yang dikehendaki (mencapai ridha Allah). Tujuan jangka panjang adalah menegakkan syariat di muka bumi sehingga membumikan syariat ini merupakan bagian utama cita-cita setiap muslim. Tujuan hanya dpat dicapai dengan melakukan usaha dakwah secara jama’i didalam jama’ah. Tujuan jangka pendek dakwah biasanya sangat bergantung kepada keadaan, tempat, suasana, situasi, peristiwa yang melatarbelakangi dan pertimbangan-pertimbangan semasa. Semua tujuan ini diwarnai dengan usaha untuk mencapai mardhatillah. Bentuk tanfidz dapat juga diartikan setiap amal yang kita hasilkan secara bersama-sama dan mengikuti sasaran yang dikehendaki, seperti terlaksananya daurah, menjadikan mad’u sebagai anggota jama’ah melaksanakan ibadah dan dakwah.
b.    Tanfidz akan diarahkan untuk bergerak dan beramal sehingga pada marhalah tanfidz ini ahdaf dakwah adalah menggerakkan amal yang sudah dilakukan sebelumnya. Banyak contoh seperti aktif di dalam menghidupkan platform, wajihah amal, dan wajihah umum. Menampilkan pribadi al akh ke dalam masyarakat sehingga mewujudkan fikrah Islam di tengah masyarakat. Menggerakkan al akh ke dalam amal yang dirasakan oleh masyarakat umum misalnya melakukan khidmat sosial. Tampilnya pribadi al akh sebagai contoh di TV atau media, dan juga memasukkan al akh ke berbagai partai dan pertumbuhan yang dapat mengembangkan dakwah Islam nantinya. Pelaksanaan tanfidz ini mungkin juga dilakukan dengan demonstrasi, turun ke jalan, dan sebagainya. Banyak cara lainnya di dalam marhalah tanfidz ini seperti usaha membentuk fikrah di dalam masyarakat melalui media dan aktivitas menegakkan syariat melalui politik dan lainnya. Tanfidz yang dilakukan oleh al akh dapat dilaksanakan dari aktivitas yang sederhana hingga kepada aktivitas yang besar didalam menegakkan syariat Islam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Share It